Selasa, 01 Maret 2016

Sejarah berakhirnya Orde Baru Dan Lahirnya Era Reformasi



Lahirnya Orde baru

1.       Penumpasan G30 S PKI

·         SEBAB-SEBAB MUNCULNYA G 30S/PKI

Sejak D.N. Aidit terpilih menjadi ketua PKI tahun 1951, ia dengan cepat membangun kembali PKI yang porak-poranda akibat kegagalan pemberontakan tahun 1948. Usaha yang dilakukan D.N. Aidit berhasil dengan baik, sehingga dalam pemilihan umum tahun 1955, PKI berhasil meraih dukungan rakyat dan menempatkan diri menjadi satu dari empat partai besar di Indonesia, yaitu PNI, Masyumi, dan NV.

Tampaknya PKI berkeinginan merebut kekuasaan melalui parlemen pada masa Demokrasi Terpimpin. Di sarnping itu, mereka juga terlihat mempersiapkan diri untuk mencapai tujuannya, yaitu berkuasa atas wilayah Republik Indonesia. Untuk itu dibentuk biro khusus yang secara rahasia bertugas mempersiapkan kader-kader di berbagai organisasi politik, termasuk dalam tubuh ABRI. PKI juga berusaha memengaruhi Presiden Soekarno untuk menyingkirkan dan melenyapkan lawan-lawan politiknya. Hal ini tampak dengan dibubarkannya Partai Masyumi, PSI, dan Partai Murba oleh presiden. PKI juga berhasil memecah-belah PNI menjadi dua kelompok. Upaya itu ditempuh oleh PKI dengan menyusupkan ir.Surachman (seorang tokoh PKI ) ke dalam tubuh PNI.Setelah PKI merasa cukup kuat, dihembuskan isu bahwa pimpinan TNI Angkatan Darat membentuk Dewan Jenderal yang akan melakukan kudeta terhadap Presiden Soekarno pada saat peringatan Hari Ulang Tahun ABRI tanggal 5 Oktober 1965. PKI juga menyebutkan bahwa anggota Dewan Jenderal itu adalah agen Nekolim (Amerika Serikat atau Inggris). Tuduhan itu ditolak oleh Angkatan Darat, bahkan Angkatan Darat langsung menuduh PKI yang akan melakukan perebutan kekuasaan. Namun dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ABRI pada tanggal 5 Oktober 1965, puluhan ribu tentara telah berkumpul di Jakarta sejak akhir bulan September 1965, sehingga dugaan-dugaan akan terjadinya kudeta semakin bertambah santer.

·         PERISTIWA G3OS/PKI

Menjelang terjadinya peristiwa G3OS/PKI, tersiar berita bahwa kesehatan presiden mulai menurun dan berdasarkan diagnosis dan tim dokter RRC ada kemungkinan Presiden Soekamo akan lumpuh atau meninggal. Setelah mengetahui keadaan Presiden Soekarno seperti itu, D.N. Aidit langsung mengambil suatu keputusan untuk memulai gerakan. Rencana gerakan diserahkan kepada kamaruzaman (alias Syam) yang diangkat sebagai Ketua Biro Khusus PKI dan disetujui oleh D.N. Aidit. Biro Khusus itu menghubungi kadernya di kalangan ABRI, seperti Brigjen Supardjo, Letnan Kolonel Untung Dari Cakrabirawa, Kolonel Sunardi dan TNI-AL, Marsekal Madya Omar Dani dan TNT-AU dan Kolonel Anwar dan Kepolisian.

Menjelang pelaksanaan Gerakan 30 September 1965, pimpinan PKI telah beberapa kali mengadakan pertemuan rahasia. Tempat pertemuan terus berpindah dan satu tempat ke tempat yang lainnya. Melalui serangkaian pertemuan itu, pimpinan PKI menetapkan bahwa Gerakan 30 September 1965 secara fisik dilakukan dengan kekuatan militer yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Resimen Cakrabirawa (Pasukan pengawal Presiden) yang bertindak sebagai pimpinan formal seluruh gerakan.

Sebagai pemimpin dari Gerakan 30 September 1965, Letnan Kolonel Untung mengambil suatu keputusan dan memerintahkan kepada seluruh anggota gerakan untuk siap dan mulai bergerak pada dini hari 1 Oktober 1965. Pada dini hari itu, mereka melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi dan seorang perwira pertama dan Angkatan Darat. Para perwira Angkatan Darat disiksa dan selanjutnya dibunuh. Mereka dibawa ke Lubang Buaya, yaitu satu tempat yang terletak di sebelah selatan pangkalan udara utama Halim Perdana Kusuma. Selanjutnya para korban itu dimasukkan ke dalam satu sumur tua, kemudian ditimbun dengan sampah dan tanah. Ketujuh korban dan TNI-Angkatan Darat adalah sebagai berikut:

1. Letnan Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat atau Men Pangad).
2. Mayor Jenderal R. Soeprapto (Deputy II Pangad).
3. Mayor Jenderal Haryono Mas Tirtodarmo (Deputy III Pangad).
4. Mayor Jenderal Suwondo Parman (Asisten I Pangad)
5. Brigadir Jenderal Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Pangad).
6. Brigadir Jenderal Soetojo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman / Oditur).
7. Letnan Satu Pierre Andreas Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution).

Ketika terjadinya penculikan itu, Jenderal A.H. Nasution yang juga menjadi target penculikan berhasil menyelamatkan diri setelah kakinya tertembak. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani menjadi korban sasaran tembak dan kaum penculik dan kemudian gugur. Ajudan Jenderal A.H. Nasütion yang bernama Letnan Satu Pierre Andreas Tendean juga menjadi korban. Sedangkan korban lainnya adalah Pembantu Letnan Polisi Karel Satsuit Tubun. ia gugur pada saat gerombolan yang berusaha menculik Jenderal A.H. Nasution. Pada waktu bersamaan, G3OS/PKI mencoba untuk mengadakan perebutan kekuasaan di Yogyakarta, Solo, Wonogiri dan Semarang. Selanjutnya gerakan tersebut mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi melalui RRI pada tanggal 1 Oktober 1965. Dewan Revolusi yang dipancarkan melalui siaran RRI itu dibacakan oleh Letnan Kolonel Untung. Sementara itu, Dewan Revolusi di daerah Yogyakarta diketuai oleh Mayor Mulyono. Mereka telah melakukan penculikan terhadap Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugijono. Kedua perwira TNI-AD ini dibunuh oleh gerombolan penculik di desa Kentungan yang terletak di sebelah utara kota Yogyakarta. 

Saat negara dalam keadaan gawat panglima kostrad mayjend soeharto segera mengambil alih pimpinan Angkatan darat dan melakukan koordinasi operasi penumpasan G 30 S PKI, dua kekuatan dikerahkan dalam operasi penumpasan G30 S yakni Resimen Para komando Angkatan darat (RPKAD) dan Batalyon 328/Para Kujang/ Siliwangi. 

http://3.bp.blogspot.com/-lLna4fnczdE/VPhr4frsVTI/AAAAAAAAA5o/Y3tAMRR0dRk/s1600/Penumpasan%2BG30%2BS%2BPKI.png
Operasi penumpasan dimulai 1 Oktober 1965 pukul 19:00 ketika pasukan RPKAD yang dipimpin Kolonel Sarwo Edhi Wibowo mendapat perintah untuk merebut studio RRI pusat dan kantor pusat Telekomunikasi. Pada tanggal 2 Oktober 1965, operasi penumpasan diarahkan ke pangkalan udara Halim Perdana kusuma yang merupakan basis utama PKI. Pangkalan tersebut berhasil dikuasai pasukan RPKAD dan Batalyon 326 dalam waktu yang singkat. Selanjutnya daerah Lubang Buaya dan sekitarnya yang menjadi pusat latihan Pemuda Rakyat dan Gerwani. Dengan dikuasainya kembali kota jakarta, usaha perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh G30 S/PKI dapat digagalkan.
Meskipun kekuatan PKI telah dilumpuhkan, tokoh tokoh PKI masih belum tertangkap, oleh karena itu dilancarkan operasi penumpasan G 30 S/PKI sampai ke akar akarnya. Pada tanggal 3 Oktober 1965 pemerintah membentuk komando Operasi pemulihan keamanan dan ketertiban (Kopkamtib) dan Mayjend Soeharto ditunjuk sebagai panglima kopkamtib. Tugas pokok nya adalah memulihkan keamanan dan ketertiban Negara akibat peristiwa G 30 S PKI serta menegakkan kembali pemerintahan dengan jalan operasi fisik, militer dan mental.

 

2.       Aksi Tritura ( Tri Tuntutan Rakyat)

·         LAHIRNYA KESATUAN-KESATUAN AKSI
Sejak gagalnya kudeta G 30 S/PKI pada tahun 1965 sampai awal tahun 1966, pemerintah tidak segera melaksanakan penyelesaian politik terhadap tokoh-tokoh G 30 S/PKI. Hal ini menimbulkan ketidaksabaran rakyat, karena bertentangan dengan rasa keadilan. Keadaan berlarut-larut serta menjurus timbulnya krisis kepemimpinan nasional, mahasiswa, pemuda, pelajar, partai-partai politik maupun organisasi massa mengutuk pemberontakan G 30 S/ PKI dan menuntut agar PKI segera dibubarkan.

Pada tanggal 25 Oktober 1965 mahasiswa Indonesia membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Berdirinya KAMI segera diikuti oleh kesatuan-kesatuan aksi yang lain seperti berikut.

1. Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI)
2. Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI)
3. Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI)
4. Kesatuan Aksi Wanita Indonesia ( KAWI)
5. Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI)
6. Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI)

Dalam rangka meningkatkan kegiatannya, KAMI dan KAPPI beserta partai-partai politik dan organisasi massa lainnya mendirikan Front Pancasila.
·         TRI TUNTUTAN RAKYAT/TRITURA
Pada tanggal 12 Januari 1966 kesatuan-kesatuan aksi mengajukan tiga tuntutan kepada pemerintah yang disebut Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). 

Adapun isi Tritura adalah sebagai berikut.
1. Bubarkan PKI dan ormas-ormasnya
2. Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur G 30 S/PKI
3. Turunkan harga barang atau perbaikan ekonomi

Aksi-aksi mahasiswa masih berjalan terus. Pada tanggal 22 Februari 1966, Presiden Sukarno mengadakan perombakan Kabinet Dwikora dengan nama Kabinet Dwikora yang Disempurnakan atau Kabinet Seratus Menteri.

Menjelang pelantikan para menteri Kabinet Dwikora dengan nama Kabinet Dwikora yang Disempurnakan, demonstrasi mahasiswa semakin meningkat. pada tanggal 24 Februari 1966 pada saat pelantikan para menteri kabinet baru, KAMI melakukan aksi mengempeskan ban-ban mobil di jalan raya terutama di depan Istana Merdeka, sehingga lau lintas praktis berhenti.

Dalam demonstrasi itu seorang mahasiswa Universitas Indonesia yang bernama Arif Rahman Hakim gugur terkena tembakan. Arif Rahman Hakim mendapat julukan sebagai menjadi Pahlawan Ampera. Sehari setelah insiden tersebut KAMI dibubarkan, namun pembubaran KAMI tersebut ternyata tidak memulihkan kewibawaan pemerintah dan tidak juga menghentikan aksi-aksi menuntut Tritura.

Tidak tegasnya sikap pemerintah terhadap G 30 S PKI dan masih adanya keberadaan PKI sebagai organisasi politik menimbulkan ketidakpuasan dalam masyarakat.
http://1.bp.blogspot.com/-V9Q4FJWX2qs/VPhss0utC2I/AAAAAAAAA5w/bsx2Dd8utwo/s1600/Isi%2Btritura.png


Ketidakpuasan rakyat diungkapkan dalam bentuk demontrasi tanggal 10 Januari 1966 yang diperoleh kesatuan aksi Mahasiswa indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI) di halaman gedung DPRGR. Apa isi dari Trikura ? : isi trikura adalah 
  • Bubarkan PKI dan Ormas Ormasnya
  • Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur pki
  • Turunkan harga 

3.       Keluarnya SUPERSEMAR (Surat Perintah Sebelas Maret)

Untuk mengatasi krisis politik yang tak kunjung surut, presiden soekarno pada tanggal 10 Maret 1966 mengadakan pertemuan dengan partai partai politik, yang mendesak agar partai partai politik mengutuk aksi Trikura, akan tetapi desakan tersebut ditolak dan mereka tetap menuntut PKI dibubarkan. Namun saat sidang dengan kabinet Dwikora yang disempurnakan yanh bertujuan untuk mengmbil langkah langkah mengatasi krisis politik yang terjadi pada saat itu, ajudan presiden melaporkan adanya pasukan tidak dikenal diluar istana. 
http://3.bp.blogspot.com/-5RVxeUaxhvY/VPhs-2tGbUI/AAAAAAAAA54/KVHlEVk0jPE/s1600/SUPERSEMAR.png

Untuk menghindari kemungkinan yang tidak di inginkan, presiden menyerahkan pimpinan sidang kepada wakil perdana mentri II Dr Leimena. Presiden soekarno selanutnya pergi ke istana bogor bersama waperdam I Dr subandiro dan waperdam III Dr Khaerul saleh. Siutasi keamanan negara saat itu semakin gawat sehingga tiga perwira negara saat itu semakin gawat sehingga tiga perwira yakni Mayjend basuki rahmat, Brigjen M Yusuf dan Brigjen Amir Machmud berinisiatif menyusul presiden ke istana bogor.
Pertemuan tersebut menghasilkan konsep surat perintah kepada Menpangad atas nama presiden mengambil segala tindakan yang dianggap perlu dalam rangka memulihkan keamanan dan kewibawaan pemerintah. Surat perintah tersebut dikenal dengan sebagai surat perintah 11 maret (Supersemar). Sebagai pengemban supersemar, letjen suharto segera melakukan tindakan untuk memenuhi Tritura yaitu :
  • Pada tanggal 12 Maret 1966, Letjen Suharto mengeluarkan keputusan yang berisi pembubaran PKI di seluruh Indonesia beserta Ormas ormasnya dan dinayatakan sebagai organisasi terlarang 
  • Pada tanggal 18 maret 1966, melakukan tindakan pengamanan terhadap 15 orang menteri kabinet Dwiora yang disempurnakan yang diduga terlibat dalam G 30 S/PKI.
Sejak keluarnya SUpersemar baru mulai lahir di Indonesia yang pada akhirnya membawa kejatuhan pemerintah Orde lama yang dipimpin oleh soekarno. Melalui Ketetapan No. XIII?MPRS?1966 di bbentuklah kabinet Ampera yang pembentukkannya dilimpahkan kepada lejten Suharto. tugas kabinet ampera disebut Dwidharma yakni mengusahakan stabilitas politik serta ekonomi.

4. Berakhirnya Orde Baru

Perjalanan pemerintahan Orde baru yang panjang yakni selama 32 tahun tidaklah mulus. Fluktasi masa tersebut dapat terlihat dari program program yang lebih diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan melalui pembangunan di segala bidang kebihdupan.
Situasi ekonomi dunia juga turu mempengaruhi Indonesia. Krisis moneter menambah masalah baru yang dituntut untuk segera di atasi. harga harga kebutuhan pokok dan bahan pangan melambung tinffi dan daya beli rakyat rendah. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar. sehingga US$1 menembus lebih dari sepuluh ribu rupiah.
Akumulasi permasalahan yang tidak selesai memancing kemarahan elemen masyarakat yang peduli terhadap nasib bangsa yang Dipelopori oleh mahasiswa, mahasiswa berdemo dan mengadakan protes intensif terhadap berbagai kebijakan yang tidak pro perbaian serta menyuarakan menentang praktek KKN. 
Puncaknya terjadi pada tanggal 12 MEI 1998 di daerah semanggi. Tindakan represif aparat menewaskan mahasiswa trisakti. Di antara mahasiswa trisakti yang tewas adalah elang mulya lesmana, hery hartanto, hendriawan, dan Hafidhin Royan.
Pada tanggal 19 mei `98 puluhan ribu mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR, yang dianggap sebagai salah satu simbol kekuasaan Orde baru. mereka menuntut soeharto turun dari jabatan presiden akan tetapi presiden hanya mereshufle kabinet.
http://4.bp.blogspot.com/-WAB9ytj8gR8/VPht-Soz95I/AAAAAAAAA6E/ILkq_IThdSE/s1600/sshot-122.png

Akhirnya pad atanggal 21 mei 1998 presiden soeharto menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya B,J Habibie. Selanjutnya B.J Habibie dilantik sebagai presiden RI menggantikan soeharto.

Lahirnya Reformasi

Gerakan reformasi du Indonesia merupakan gerakan dari berbagai komponen masyarakat untuk melakukan perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan masyarakat. Gerakan ini lahir karena kondisi politik, sosial dan ekonomi yang tidak memihak kepada rakyat. Dampak krsisi moneter bagi masyarakat dan pemerintahan indonesia antara lain :
  • Tatanan ekonomi rusak berat dengan bangkrutnya perbankan dan badan usaha lainya 
  • Pemutusan hubungan kerja meningkat sehingga penganguguran meluas
  • melonjaknya berbagai harga barang
  • timbulnya krisis keperncayaan masyarakat terhadap pemerintahan orde baru.
LATAR BELAKANG LAHIRNYA ERA REFORMASI

·         Era Reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan 1998, tepatnya saat Presiden Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 dan digantikan wakil presiden BJ Habibie.

·         Krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah dan semakin besarnya ketidak puasan masyarakat Indonesia terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto saat itu menyebabkan terjadinya demonstrasi besar-besaran yang dilakukan berbagai organ aksi mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia.
·         Pemerintahan Soeharto semakin disorot setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 yang kemudian memicu Kerusuhan Mei 1998 sehari setelahnya. Gerakan mahasiswa pun meluas hampir diseluruh Indonesia. Di bawah tekanan yang besar dari dalam maupun luar negeri, Soeharto akhirnya memilih untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Garis waktu
* 22 Januari 1998
o Rupiah tembus 17.000,- per dolar AS, IMF tidak menunjukkan rencana bantuannya.

* 12 Februari
o Soeharto menunjuk Wiranto, menjadi Panglima Angkatan Bersenjata.

* 10 Maret
o Soeharto terpilih kembali untuk masa jabatan lima tahun yang ketujuh kali dengan menggandeng B.J. Habibie sebagai Wakil Presiden.

* 4 Mei
o Harga BBM meroket 71%, disusul 3 hari kerusuhan di Medan dengan korban sedikitnya 6 meninggal.

* 8 Mei
o Peristiwa Gejayan, 1 mahasiswa Yogyakarta tewas terbunuh.

* 9 Mei
o Soeharto berangkat seminggu ke Mesir.

* 12 Mei

o Tragedi Trisakti, 4 Mahasiswa Trisakti terbunuh.

* 13 Mei
o Kerusuhan Mei 1998 pecah di Jakarta. Kerusuhan juga terjadi di kota Solo.
o Soeharto yang sedang menghadiri pertemuan negara-negara berkembang G-15 di Kairo, Mesir, memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sebelumnya, dalam pertemuan tatap muka dengan masyarakat Indonesia  di Kairo, Soeharto menyatakan akan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden.
o Etnis Tionghoa mulai eksodus meninggalkan Indonesia.

* 14 Mei
o Demonstrasi terus bertambah besar hampir di seluruh kota-kota di Indonesia, demonstran mengepung dan menduduki gedung-gedung DPRD di daerah.

* 18 Mei

o Ketua MPR yang juga ketua Partai Golkar, Harmoko, meminta Soeharto untuk turun dari jabatannya sebagai presiden.
o Jenderal Wiranto mengatakan bahwa pernyataan Harmoko tidak mempunyai dasar hukum; Wiranto mengusulkan pembentukan "Dewan Reformasi".
o Gelombang pertama mahasiswa dari FKSMJ, Forum Kota, UI dan HMI MPO memasuki halaman dan menginap di Gedung DPR/MPR
Mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR

* 19 Mei
o Soeharto berbicara di TV, menyatakan dia tidak akan turun dari jabatannya, tetapi menjanjikan pemilu baru akan dilaksanakan secepatnya.
o Beberapa tokoh Muslim, termasuk Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Wahid, bertemu dengan Soeharto.
o Ribuan mahasiswa menduduki Gedung DPR/MPR, Jakarta.
o Dilaporkan bentrokan terjadi dalam demonstrasi di Universitas Airlangga, Surabaya.

* 20 Mei
o Amien Rais membatalkan rencana demonstrasi besar-besaran di Monas, setelah 80.000 tentara bersiaga di kawasan Monas.
o 500.000 orang berdemonstrasi di Yogyakarta, termasuk Sultan Hamengkubuwono X. Demonstrasi besar lainnya juga terjadi di Surakarta, Medan, Bandung.
o Harmoko mengatakan Soeharto sebaiknya mengundurkan diri pada Jumat, 22 Mei, atau DPR/MPR akan terpaksa memilih presiden baru
o Sebelas menteri kabinet mengundurkan diri, termasuk Ginandjar Kartasasmita, milyuner kayu Bob Hasan, dan Gubernur Bank Indonesia Syahril Sabirin.

Pernyataan pengunduran diri
* 21 Mei
o Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya pada pukul 9.00 WIB
o Wakil Presiden B.J. Habibie menjadi presiden baru Indonesia.
o Jenderal Wiranto mengatakan ABRI akan tetap melindungi presiden dan mantan-mantan presiden.
o Terjadi perdebatan tentang proses transisi ini. Yusril Ihza Mahendra, salah satu yang pertama mengatakan bahwa proses pengalihan kekuasaan adalah sah dan konstitusional.
* 22 Mei
o Habibie mengumumkan susunan "Kabinet Reformasi".
o Letjen Prabowo Subiyanto dicopot dari jabatan Panglima Kostrad.
o Di Gedung DPR/MPR, bentrokan hampir terjadi antara pendukung Habibie yang memakai simbol-simbol dan atribut keagamaan dengan mahasiswa yang masih bertahan di Gedung DPR/MPR. Mahasiswa menganggap bahwa Habibie masih tetap bagian dari Rezim Orde Baru. Tentara mengevakuasi mahasiswa dari Gedung DPR/MPR ke Universitas Atma Jaya

·         Habibie

Masa pemerintahan Habibie ditandai dengan dimulainya kerjasama dengan Dana Moneter Internasional untuk membantu dalam proses pemulihan ekonomi. Selain itu, Habibie juga melonggarkan pengawasan terhadap media massa dan kebebasan berekspresi.
Kejadian penting dalam masa pemerintahan Habibie adalah keputusannya untuk mengizinkan Timor Timur untuk mengadakan referendum yang berakhir dengan berpisahnya wilayah tersebut dari Indonesia pada Oktober 1999.
Keputusan tersebut terbukti tidak populer di mata masyarakat sehingga hingga kini pun masa pemerintahan Habibie sering dianggap sebagai salah satu masa kelam dalam sejarah Indonesia.
·         GusDur
Pada pemilu yang diselenggarakan pada 1999 (lihat: Pemilu 1999), partai PDI-P pimpinan Megawati Soekarnoputri berhasil meraih suara terbanyak (sekitar 35%). Tetapi karena jabatan presiden masih dipilih oleh MPR saat itu, Megawati tidak secara langsung menjadi presiden. Abdurrahman Wahid, pemimpin PKB, partai dengan suara terbanyak kedua saat itu, terpilih kemudian sebagai presiden Indonesia ke-4. Megawati sendiri dipilih Gus Dur sebagai wakil presiden.
Masa pemerintahan Abdurrahman Wahid diwarnai dengan gerakan-gerakan separatisme yang makin berkembang di Aceh, Maluku dan Papua. Selain itu, banyak kebijakan Abdurrahman Wahid yang ditentang oleh MPR/DPR.
Pada 29 Januari 2001, ribuan demonstran berkumpul di Gedung MPR dan meminta Gus Dur untuk mengundurkan diri dengan tuduhan korupsi. Di bawah tekanan yang besar, Abdurrahman Wahid lalu mengumumkan pemindahan kekuasaan kepada wakil presiden Megawati Soekarnoputri.
Melalui Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001, Megawati secara resmi diumumkan menjadi Presiden Indonesia ke-5.

·         Megawati
Megawati dilantik di tengah harapan akan membawa perubahan kepada Indonesia karena merupakan putri presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Meski ekonomi Indonesia mengalami banyak perbaikan, seperti nilai mata tukar rupiah yang lebih stabil, namun  Indonesia pada masa pemerintahannya tetap tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam bidang-bidang lain.
Popularitas Megawati yang awalnya tinggi di mata masyarakat Indonesia, menurun seiring dengan waktu. Hal ini ditambah dengan sikapnya yang jarang berkomunikasi dengan masyarakat sehingga mungkin membuatnya dianggap sebagai pemimpin yang 'dingin'.
Megawati menyatakan pemerintahannya berhasil dalam memulihkan ekonomi Indonesia, dan pada 2004, maju ke Pemilu 2004 dengan harapan untuk mempertahankan kekuasaannya sebagai presiden.
Pada tahun 2004, Indonesia menyelenggarakan pemilu presiden secara langsung pertamanya. Ujian berat dihadapi Megawati untuk membuktikan bahwa dirinya masih bisa diterima mayoritas penduduk Indonesia. Dalam kampanye, seorang calon dari partai baru bernama Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, muncul sebagai saingan yang hebat baginya.
Partai Demokrat yang sebelumnya kurang dikenal, menarik perhatian masyarakat dengan pimpinannya, Yudhoyono, yang karismatik dan menjanjikan perubahan kepada Indonesia. Karisma Yudhoyono berhasil menarik hati mayoritas pemilih dan Demokrat memenangkan pemilu legislatif pada awal 2004, yang diikuti kemenangan Yudhoyono pada pemilihan presiden

Tidak ada komentar:

Posting Komentar